Siapa yang tidak memiliki semangat Natal di hati tidak akan menemukannya di bawah pohon Natal.
~ Roy L. Smith ~
Catatan:
Tulisan ini dikirim, atas permintaanku, dari Duluth di Amerika sana. Hasil goresan pena (tepatnya ketikan keyboard) Inge Maskun.
Pengalamannya belakangan ini menghantarnya menatap Desember dengan Natalnya dengan pandangan yang lebih seksama dan lebih bijak, seperti yang dituturkannya berikut ini.
Btw, thanks, Ing! Semoga ini yang pertama . . . he he.
Tahun ini, aku dan Charlie setuju untuk tidak tukar-tukaran kado Natal. Bukan apa-apa. Kami merasa perlu untuk tirakat. Dan kami sudah berjanji untuk tidak menimbun barang baru sebelum barang lama keluar dari rumah dan pindah ke Goodwill Industry (tempat penampungan aneka barang yang ingin disumbangkan supaya bisa dijual kembali dan hasilnya buat membantu banyak orang yang tak mampu).
Karena sikon di Amerika saat ini, tahun ini kami diberi kesempatan buat merenungkan makna Natal dengan lebih seksama.
Kalau mau diingat kembali, sebetulnya masa Natal yang paling indah dan paling damai buatku justru masa waktu aku masih TK dan masih tinggal di Banjarmasin.
Nikmat Natal itu sederhana sekali: menghias pohon Natal bersama keluarga sambil mengingat-ingat kisah khusus di balik setiap hiasan Natal yang dipajang. Ada satu tetangga kami, Mayor Harun yang Muslim dengan delapan anak, selalu punya pohon Natal di bulan Desember. Karenanya, kami ikut sibuk membantu mereka menata pohon ini. (Sebagai catatan: di bulan Ramadhan kami juga ikut menikmati buka puasa meskipun kami tak ikut berpuasa. Dan membantu menyiapkan pesta ketupat bersama tetangga). Kalau malam, kami bergantian menonton kelap-kelipnya lampu pohon Natal sambil mendengarkan lagu-lagu Natal melalui piringan hitam.
Pas malam Natal keluarga kami pergi ke gereja tengah malam lalu pulangnya sulit tidur karena penasaran jam berapa sebetulnya Sinterklas datang mengantar kado. Paginya, setelah kami membuka kado, seorang satu, kami makan pagi bersama, menerima kunjungan tetangga atau pergi ke rumah tetangga, mengunjungi asrama suster dan pastor dan mengumpulkan hadiah dari mereka – gambar-gambar orang suci.
Rumah kami di Banjarmasin besar dan panjang (buat ukuran anak umur lima tahun). Di awal tahun 60-an itu, listrik merupakan barang mewah, tapi justru suasana gelap dan sunyi itu rasanya jadi masa paling damai yang aku ingat, apalagi menjelang Natal.
Natal zaman sekarang sudah jauh berubah. Kata banyak orang, ini gara-gara dunia retail berusaha menarik manfaat sebesar mungkin dari satu hari di bulan Desember ini. Dulu, lagu Natal dan dekorasi Natal di mal-mal baru terdengar dan terlihat di bulan Desember. Sekarang, baru masuk November banyak toko sudah mulai berhias, mulai berlomba mengeluarkan iklan dan dulu-duluan menarik pembeli buat menyetok hadiah. Radio-radio mulai memutar lagu-lagu Natal. Sepertinya kita dipaksa buat segera memikirkan Natal; anehnya, bukan maknanya yang terpikir tapi segi komersialnya – perencanaan hadiahnya, makanannya, pestanya.
Ini tahun penuh tantangan buat kami dan tampaknya juga buat banyak orang di seluruh dunia; Banyak orang berprediksi bahwa tahun ini bakalan jadi tahun paling gelap buat dunia retail. Bisnis impor yang kami bangun sejak lima tahun lalu terpaksa harus ditutup. Likuidasi barang sudah kami mulai sejak akhir September lalu dengan harapan kami bisa memanfaatkan masa Natal tahun ini dengan jalan beriklan 2-3 bulan sebelumnya. Begitu pun, belum setengah dari pasokan barang kami bisa terjual.
Aku ketemu banyak sekali teman, klien, langganan kami yang mampir setelah melihat iklan likuidasi kami. Rata-rata mereka bilang, “Sedih saya mendengar kalian akan menutup toko ini. Tidak banyak yang bisa kami beli; mudah-mudahan yang sedikit pun tetap membantu.” Terus terang kami tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana, tapi kalau roda sudah di bawah begini satu-satunya jalan adalah berputar ke atas.
Pada saat seluruh negeri terpuruk seperti ini dan sebagian besar orang berada di perahu yang sama, kita merasa senasib. Gereja jadi lebih penuh rasanya karena kita mencari tempat bersandar. Volunteerism meningkat karena duit seret membuat orang menyumbangkan waktu dan tenaga.
Mungkin Tuhan sedang bicara pada kami saat ini; mungkin Tuhan sedang mengetuk hati kita semua agar kita menjenguk makna Natal yang sebenarnya tahun ini. Tiba-tiba Natal tahun ini rasanya akan kembali jadi Natal seperti tahun 60-an dulu: menikmati apa adanya. Sederhana itu indah.
Tuhan memang Maha Kuasa. Diberi-Nya kita pelajaran yang luar biasa beratnya supaya kita bangkit jadi emas, lahir kembali menjadi yang lebih baik. Mudah-mudahan resolusi buat tahun 2009 berisi banyak unsur kasih, hemat, dan sehat: berkumpul dengan keluarga, pergi ke gereja dengan hati penuh syukur dan memanjatkan doa buat seluruh dunia. Kiranya kita boleh merasakan arti damai, kasih dan rasa tolong menolong dengan sesama.
Selamat menikmati tahun penuh kasih!


Entries (RSS)