Archive for January, 2008

Gold prices surged above $900 a troy ounce for the first time as investors on Monday sought refuge from a weakening US dollar and further losses on Wall Street.

As the spot price hit $914 an ounce in London, traders were betting it would reach $1,000 within three months. The surge to a record high was also prompted by fears that lower interest rates and higher food and energy commodities would trigger an inflation rise.

Speculators on the New York gold market hold 10 bets on higher prices for each one on lower prices, according to analysts. Investors in Tokyo and on the Shanghai gold futures market are also betting on higher prices.

Gold’s strength boosted platinum to a high of $1,590 an ounce and silver to a 27-year high of $16.58 an ounce.

The US dollar fell to $1.4890 against the euro, its weakest level in seven weeks.

Meanwhile, agriculture commodities jumped as the weaker dollar attracted overseas buyers and after signs that European Union efforts to boost agriculture production had failed so far in spite of the suspension of the limits to grain crops.

The EU last year scrapped a rule requiring farmers to set aside 10 per cent of their land in an effort to increase output. However, French and German farmers, which account for half of the EU-15 production, sowed less than 2 per cent more winter crops.

The European failure follows a similar pattern in the US. Soyabean and rice prices surged to an all-time high, corn jumped to a 12-year record, and wheat prices surged, with the new crop futures hitting all-time highs. In Paris, rapeseed futures traded above €450-a-tonne for the first time.

Go straight to Post

Gold prices were edging higher again Tuesday as gloomy economic reports added to the allure of the metal, which has been on a tear in the first days of 2008.February-dated bullion contracts were ahead by $5 at $908.40 an ounce in recent action on the Comex division of the New York Mercantile Exchange. On Monday, prices reached an all-time intraday high of $915.90 before pulling back to settle at $903.40. Spot prices have rallied from around $840 at the beginning of the year.

Go straight to Post

BERDOALAH SAMPAI SESUATU TERJADI

Seorang laki-laki sedang tidur di pondoknya ketika kamarnya tiba-tiba menjadi terang, dan nampaklah Sang Juru Selamat. Tuhan berkata padanya bahwa ada pekerjaan yang harus dilakukan laki-laki itu, dan menunjukkan padanya sebuah batu besar di depan pondoknya. Tuhan menjelaskan bahwa laki-laki itu harus mendorong batu itu dengan seluruh kekuatannya.

Hal ini dikerjakan laki-laki itu setiap hari. Bertahun-tahun ia bekerja sejak matahari terbit sampai terbenam, pundaknya menjadi kaku menahan dingin, ia kelelahan karena mendorong dengan seluruh kemampuannya. Setiap malam laki-laki itu kembali ke kamarnya dengan sedih dan cemas, merasa bahwa sepanjang harinya kosong dan tersia-sia.

Ketika laki-laki itu mulai putus asa, si Iblis pun mulai mengambil bagian untuk mengacaukan pikirannya. “Sekian lama kau telah mendorong batu itu tetapi batu itu tidak bergeming. Apa kau ingin bunuh diri? Kau tidak akan pernah bisa memindahkannya.”

Lalu, ditunjukkannya pada laki-laki bahwa tugas itu sangat tidak masuk akal dan salah. Pikiran tersebut kemudian membuat laki-laki itu putus asa dan patah semangat. “Mengapa aku harus bunuh diri seperti ini?” pikirnya. “Aku akan menyisihkan waktuku, dengan sedikit usaha, dan itu akan cukup baik.”

Dan itulah yang direncanakan, sampai suatu hari diputuskannya untuk berdoa dan membawa pikiran yang mengganggu itu kepada Tuhan. “Tuhan,” katanya “Aku telah bekerja keras sekian lama dan melayaniMu, dengan segenap kekuatannku melakukan apa yang Kau inginkan. Tetapi sampai sekarang aku tidak dapat menggerakkan batu itu setengah milimeterpun. Mengapa? Mengapa aku gagal?’

Tuhan mendengarnya dengan penuh perhatian,”Sahabatku, ketika aku memintamu untuk melayaniKu dan kau menyanggupi, Aku berkata kepadamu, tugasmu utuk mendorong batu itu dengan seluruh kekuatanmu, seperti yang telah kau lakukan. Tidak sekalipun Aku mengatakan bahwa kau mesti menggesernya. Tugasmu hanyalah mendorong. Dan kini kau datang padaKu dengan tenaga terkuras, berpikir bahwa kau telah gagal. tetapi apakah benar? Lihatlah dirimu. Lenganmu kuat dan berotot, punggungmu tegap dan coklat, tanganmu keras karena tekanan terus-menerus, dan kakimu menjadi gempal dan kuat. Sebaliknya kau telah bertumbuh banyak dan kini kemampuanmu melebihi sebelumnya. Meski kau belum menggeser batu itu. Tetapi panggilanmu adalah menurut dan mendorong dan belajar untuk setia dan percaya akan hikmatKu. Ini yang kau telah selesaikan. Aku, sahabatmu, sekarang akan memindahkan batu itu.”

Terkadang, ketika kita mendengar suara Tuhan, kita cenderung menggunakan pikiran kita untuk menganalisa keinginanNya, sesungguhnya apa yang Tuhan inginkan adalah hal-hal yang sangat sederhana agar menuruti dan setia kepadaNya … Dengan kata lain, berlatih menggeser gunung-gunung, tetapi kita tahu bahwa Tuhan selalu ada dan Dialah yang dapat memindahkannya.

Ketika segala sesuatu kelihatan keliru … lakukan P.U.S.H (push = dorong)
Ketika pekerjaanmu mulai menurun … lakukan P.U.S.H (push = dorong)
Ketika orang-orang tidak berlaku seperti yang semestinya mereka lakukan … lakukan P.U.S.H (push = dorong)
Ketika uangmu seperti “lenyap” dan tagihan-tagihan mulai harus dibayar … lakukan P.U.S.H (push = dorong)

P.U.S.H – Pray Until Something Happens!! (Berdoalah sampai sesuatu terjadi).

Go straight to Post

Cinta Kasih di Hati Manusia - Wonderful story

Jaman dahulu kala di Rusia hidup pasangan suami-istri Simon dan Matrena. Simon yang miskin ini adalah seorang pembuat sepatu. Meskipun hidupnya tidaklah berkecukupan, Simon adalah seorang yang mensyukuri hidupnya yang pas-pasan. Masih banyak orang lain yang hidup lebih miskin daripada Simon. Banyak orang-orang itu yang malah berhutang padanya. Kebanyakan berhutang ongkos pembuatan sepatu. Maklumlah, di Rusia sangat dingin sehingga kepemilikan sepatu dan mantel merupakan hal yang mutlak jika tidak mau mati kedinginan.

Suatu hari keluarga tersebut hendak membeli mantel baru karena mantel mereka sudah banyak yang berlubang-lubang. Uang simpanan mereka hanya 3 rubel (rubel = mata uang Rusia) padahal mantel baru yang paling murah harganya 5 rubel.
Maka Matrena meminta pada suaminya untuk menagih hutang orang-orang yang telah mereka buatkan sepatu. Maka Simon pun berangkat pergi menagih hutang. Tapi tak satupun yang membayar. Dengan sedih Simon pulang. Ia batal membeli mantel.

Dalam perjalanan pulang, Simon melewati gereja, dan saat itu ia melihat sesosok manusia yang sangat putih bersandar di dinding luar gereja. Orang itu tak berpakaian dan kelihatan sekali ia sangat kedinginan.

Simon ketakutan, “Siapakah dia? Setankah? Ah, daripada terlibat macam-macam lebih baik aku pulang saja”. Simon bergegas mempercepat langkahnya sambil sesekali mengawasi belakangnya, ia takut kalau orang itu tiba-tiba mengejarnya.

Namun ketika semakin jauh, suara hatinya berkata, “HAI SIMON, TAK MALUKAH KAU? KAU PUNYA MANTEL MESKIPUN SUDAH BERLUBANG-LUBANG, SEDANGKAN ORANG ITU TELANJANG. PANTASKAH ORANG MENINGGALKAN SESAMANYA BEGITU SAJA?”

Simon ragu, tapi akhirnya toh ia balik lagi ke tempat orang itu bersandar.
Ketika sudah dekat, dilihatnya orang itu ternyata pria yang wajahnya sungguh tampan. Kulitnya bersih seperti kulit bangsawan. Badannya terlihat lemas dan tidak berdaya, namun sorot matanya menyiratkan rasa terima kasih yang amat sangat ketika Simon memakaikan mantel luarnya kepada orang itu dan memapahnya berdiri. Ia tidak bisa menjawab sepatah kata pun atas pertanyaan-pertanyaan Simon, sehingga Simon memutuskan untuk membawanya pulang.

Sesampainya di rumah, Matrena marah sekali karena Simon tidak membawa mantel baru dan membawa seorang pria asing. “Simon, siapa ini? Mana mantel barunya?”

Simon mencoba menyabarkan Matrena, “Sabar, Matrena…. dengar dulu penjelasanku. Orang ini kutemukan di luar gereja, ia kedinginan, jadi kuajak sekalian pulang”.

“Bohong!! Aku tak percaya….sudahlah , pokoknya aku tak mau dengar ceritamu! Sudah tahu kita ini miskin kok masih sok suci menolong orang segala!!
Usir saja dia!!” “Astaga, Matrena! Jangan berkata begitu, seharusnya kita bersyukur karena kita masih bisa makan dan punya pakaian, sedangkan orang ini telanjang dan kelaparan. Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih? “Matrena menatap wajah pria asing itu, mendadak ia merasa iba. Lalu disiapkannya makan malam sederhana berupa roti keras dan bir hangat. “Silakan makan, hanya sebeginilah makanan yang ada. Siapa namamu dan darimana asalmu? Bagaimana ceritanya kau bisa telanjang di luar gereja?”

Tiba-tiba wajah pria asing itu bercahaya. Mukanya berseri dan ia tersenyum untuk pertama kalinya. “Namaku Mikhail, asalku dari jauh. Sayang sekali banyak yang tak dapat kuceritakan. Kelak akan tiba saatnya aku boleh menceritakan semua yang kalian ingin ketahui tentang aku. Aku akan sangat berterima kasih kalau kalian mau menerimaku bekerja di sini.”

“Ah, Mikhail, usaha sepatuku ini cuma usaha kecil. Aku takkan sanggup menggajimu”,  demikian Simon menjawab.

Tak apa, Simon. Kalau kau belum sanggup menggajiku, aku tak keberatan kerja tanpa gaji asalkan aku mendapat makan dan tempat untuk tidur.”

“Baiklah kalau kau memang mau begitu. Besok kau mulai bekerja”.

Malamnya pasangan suami-istri itu tak dapat tidur. Mereka bertanya-tanya.

“Simon tidakkah kita keliru menerima orang itu? Bagaimana jika Mikhail itu ternyata buronan?” Matrena bertanya dengan gelisah pada Simon.

Simon menjawab, “Sudahlah Matrena. Percayalah pada pengaturan Tuhan. Biarlah ia tinggal di sini.Tingkah lakunya cukup baik. Kalau ternyata ia berperilaku tidak baik, segera kuusir dia”.

Esoknya Mikhail mulai bekerja membantu Simon membuat dan memperbaiki sepatu.
Di bengkelnya, Simon mengajari Mikhail memintal benang dan membuat pola serta
menjahit kulit untuk sepatu. Sungguh aneh, baru tiga hari belajar, Mikhail sudah
bisa membuat sepatu lebih baik dan rapi daripada Simon.

Lama kelamaan bengkel sepatu Simon mulai terkenal karena sepatu buatan Mikhail
yang bagus. Banyak pesanan mengalir dari desa-desa yang penduduknya kaya. Simon
tidak lagi miskin. Keluarga itu sangat bersyukur karena mereka sadar, tanpa
bantuan tangan terampil Mikhail, usaha mereka takkan semaju ini.

Namun mereka juga terus bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya
Mikhail ini. Anehnya, selama Mikhail tinggal bersama mereka, baru sekali saja
ia tersenyum, yaitu dulu saat Matrena memberi Mikhail makan. Namun meski tanpa senyum,
muka Mikhail selalu berseri sehingga orang tak takut melihat wajahnya.

Suatu hari datanglah seorang kaya bersama pelayannya. Orang itu tinggi besar,
galak dan terlihat kejam. “Hai Simon, Aku minta dibuatkan sepatu yang
harus tahan setahun mengahadapi cuaca dingin. Kalau sepatu itu rusak sebelum
setahun, kuseret kau ke muka hakim untuk dipenjarakan! ! Ini, kubawakan kulit
terbaik untuk bahan sepatu. Awas, hati-hati ini kulit yang sangat mahal!”

Di pojok ruangan, Mikhail yang sedari tadi duduk diam, tiba-tiba
tersenyum. Mukanya bercahaya, persis seperti dulu ketika ia pertama kalinya
tersenyum.

Sebenarnya Simon enggan berurusan dengan orang ini. Ia baru saja hendak
menolak pesanan itu ketika Mikhail memberi isyarat agar ia menerima pesanan itu.

Simon berkata, “Mikhail, kau sajalah yang mengerjakan sepatu itu.
Aku sudah mulai tua. Mataku agak kurang awas untuk mengerjakan sepatu semahal
ini. Hati-hati, ya. Aku tak mau salah satu atau malah kita berdua masuk penjara.”

Ketika Mikhail selesai mengerjakan sepatu itu, bukan main terkejutnya Simon.
“Astaga, Mikhail, kenapa kau buat sepatu anak-anak? Bukankah yang memesan
itu orangnya tinggi besar? Celaka, kita bisa masuk penjara karena….”

Belum selesai Simon berkata, datang si pelayan orang kaya.
“Majikanku sudah meninggal. Pesanan dibatalkan. Jika masih ada sisa kulit,
istri majikanku minta dibuatkan sepatu anak-anak saja”.

“Ini, sepatu anak-anak sudah kubuatkan. Silakan bayar ongkosnya
pada Simon”, Mikhail menyerahkan sepatu buatannya pada pelayan itu.
Pelayan itu terkejut, tapi ia diam saja meskipun heran darimana Mikhail tahu
tentang pesanan sepatu anak-anak itu.

Tahun demi tahun berlalu, Mikhail tetap tidak pernah tersenyum kecuali
pada dua kali peristiwa tadi. Meskipun penasaran, Simon dan Matrena tak pernah berani
menyinggung- nyinggung soal asal usul Mikhail karena takut ia akan meninggalkan
mereka.

Suatu hari datanglah seorang ibu dengan dua orang anak kembar yang
salah satu kakinya pincang! Ia minta dibuatkan sepatu untuk kedua anak itu.
Simon heran sebab Mikhail tampak sangat gelisah. Mukanya muram, padahal
biasanya tidak pernah begitu.

Saat mereka hendak pulang, Matrena bertanya pada ibu itu, “Mengapa
salah satu dari si kembar ini kakinya pincang?”

Ibu itu menjelaskan, “Sebenarnya mereka bukan anak kandungku.
Mereka kupungut ketika ibunya meninggal sewaktu melahirkan mereka. Padahal
belum lama ayah mereka juga meninggal. Kasihan, semalaman ibu mereka yang sudah
meninggal itu tergeletak dan menindih salah satu kaki anak ini Itu sebabnya ia
pincang. Aku sendiri tak punya anak, jadi kurawat mereka seperti anakku sendiri.”

“Tuhan Maha Baik, manusia dapat hidup tanpa ayah ibunya, tapi
tentu saja manusia takkan dapat hidup tanpa Tuhannya”, kata Matrena.

Mendengar itu, Mikhail kembali berseri-seri dan tersenyum untuk ketiga kalinya.
Kali ini bukan wajahnya saja yang bercahaya, tapi seluruh tubuhnya. Sesudah
tamu-tamu tersebut pulang, ia membungkuk di depan Simon dan Matrena sambil
berkata, “Maafkan semua kesalahan yang pernah kuperbuat, apalagi telah
membuat gelisah dengan tidak mau menceritakan asal usulku. Aku dihukum Tuhan,
tapi hari ini Tuhan telah mengampuni aku. Sekarang aku mohon pamit.”

Simon dan Matrena tentu saja heran dan terkejut, “Nanti dulu
Mikhail, tolong jelaskan pada kami siapakah sebenarnya kau ini?”

Mikhail menjawab sambil terus tersenyum, “Sebenarnya aku adalah
adalah satu malaikat Tuhan. Bertahun-tahun yang lalu Tuhan menugaskan aku
menjemput nyawa ibu kedua anak tadi. Aku sempat menolak perintah Tuhan itu tapi
kuambil juga nyawa ibu mereka. Aku menganggap Tuhan kejam. Belum lama mereka
ditinggal ayahnya, sekarang ibunya harus meninggalkan mereka juga. Dalam
perjalanan ke surga, Tuhan mengirim badai yang menghempaskanku ke bumi. Jiwa
ibu bayi menghadap Tuhan sendiri. Tuhan berkata padaku, ‘MIKHAIL, TURUNLAH KE
BUMI DAN PELAJARI KETIGA KEBENARAN INI HINGGA KAU MENGERTI:

PERTAMA, APAKAH YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA?

KEDUA, APA YANG TAK DIIJINKAN PADA MANUSIA?

KETIGA, APA YANG PALING DIPERLUKAN MANUSIA?’

“Aku jatuh di halaman gereja, kedinginan dan kelaparan. Simon
menemukan dan membawaku pulang. Waktu Matrena marah-marah dan hendak mengusir
aku, kulihat maut dibelakangnya. Seandainya ia jadi mengusirku, ia pasti mati malam
itu. Tapi Simon berkata, “Tidakkah di hatimu ada sedikit belas kasih?”
Matrena jatuh iba dan memberi aku makan. Saat itulah aku tahu kebenaran
pertama: “YANG HIDUP DALAM HATI MANUSIA ADALAH BELAS KASIH”

“Kemudian ada orang kaya yang memesan sepatu yang tahan satu tahun
sambil marah-marah. Aku melihat maut di belakangnya. Ia tidak tahu ajalnya
sudah dekat. Aku tersenyum untuk kedua kalinya. Saat itulah aku tahu kebenaran kedua:
“MANUSIA TIDAK DIIJINKAN MENGETAHUI MASA DEPANNYA. MASA DEPAN MANUSIA ADA DI TANGAN TUHAN”

“Hari ini datang ibu angkat bersama kedua anak kembar tadi. Ibu
kandung si kembar itulah yang diperintahkan Tuhan untuk kucabut nyawanya. Dan
aku melihat si kembar dirawat dengan baik oleh ibu lain. Aku tersenyum
untuk ketiga kalinya dan kali ini tubuhku bercahaya. Aku tahu kebenaran yang ketiga:
“MANUSIA DAPAT HIDUP TANPA AYAH DAN IBUNYA TAPI MANUSIA TIDAK AKAN DAPAT HIDUP TANPA TUHANNYA.”

Simon, Matrena, terima kasih atas kebaikan kalian berdua. Aku telah mengetahui
ketiga kebenaran itu, Tuhan telah mengampuniku. Semoga kasih Tuhan senantiasa
menyertai kalian sepanjang hidup.” Mikhail kembali ke surga.

Go straight to Post

GOOD STORY

Tuhan memberiku sebuah tugas, yaitu membawa keong jalan-jalan.
Aku tak dapat jalan terlalu cepat, Keong sudah berusaha keras merangkak,
setiap kali hanya beralih sedemikian sedikit.

Aku mendesak, menghardik, memarahinya, Keong memandangku dengan pandangan meminta-maaf, serasa berkata : “aku sudah berusaha dengan segenap tenaga…”

Aku menariknya, menyeret, bahkan menendangnya, Keong terluka. Ia mengucurkan keringat, nafas tersengal-sengal, merangkak ke depan.

Sungguh aneh, mengapa Tuhan memintaku mengajak seekor keong berjalan-jalan?
Ya Tuhan! Mengapa? Langit sunyi-senyap…

Biarkan saja keong merangkak di depan, aku kesal di belakang. Pelankan
langkah, tenangkan hati…

Oh? Tiba-tiba tercium aroma bunga, ternyata ini adalah sebuah taman bunga.
Aku rasakan hembusan sepoi angin, ternyata angin malam demikian lembut. Ada
lagi! Aku dengar suara kicau burung, suara dengung cacing. (mang cacing
mendengung?! tawon kalii??) Aku lihat langit penuh bintang cemerlang. Oh?
Mengapa dulu tidak rasakan semua ini? Barulah aku teringat, mungkin aku
telah salah menduga!

Ternyata Tuhan meminta Keong menuntunku jalan-jalan sehingga aku dapat
mamahami dan merasakan keindahan taman ini yang tak pernah kualami kalau aku berjalan sendiri dengan cepatnya.

“He’s here and with me for a reason”

Saat bertemu dengan orang yang benar-benar engkau kasihi, haruslah berusaha
memperoleh kesempatan untuk bersamanya seumur hidupmu. Karena ketika dia
telah pergi, segalanya telah terlambat.

Saat bertemu teman yang dapat dipercaya, rukunlah bersamanya. Karena seumur
hidup manusia, teman sejati tak mudah ditemukan.

Saat bertemu penolongmu, ingat untuk bersyukur padanya. Karena ia lah yang
mengubah hidupmu.

Saat bertemu orang yang pernah kau cintai, ingatlah dengan tersenyum untuk
berterima-kasih. Karena ia lah orang yang membuatmu lebih mengerti tentang
kasih.

Saat bertemu orang yang pernah kau benci, sapalah dengan tersenyum. Karena ia membuatmu semakin teguh / kuat.

Saat bertemu orang yang pernah mengkhianatimu, baik-baiklah berbincanglah
dengannya. Karena jika bukan karena dia, hari ini engkau tak memahami dunia
ini.

Saat bertemu orang yang pernah diam-diam kau cintai, berkatilah dia. Karena
saat kau mencintainya, bukankah berharap ia bahagia?

Saat bertemu orang yang tergesa-gesa meninggalkanmu, berterima-kasihlah bahwa ia pernah ada dalam hidupmu. Karena ia adalah bagian dari nostalgiamu.

Saat bertemu orang yang pernah salah-paham padamu, gunakan saat tersebut
untuk menjelaskannaya. Karena engkau mungkin hanya punya satu kesempatan itu saja untuk menjelaskan.

Saat bertemu orang yang saat ini menemanimu seumur hidup, berterima-kasihlah
sepenuhnya bahwa ia mencintaimu. Karena saat ini kalian mendapatkan
kebahagiaan dan cinta sejati.

Thank you,

Go straight to Post